Kamis, 21 Januari 2010

FILM DOKUMENTER (SESSION 2)

PERJALANAN SINGKAT FILM DOKUMENTER DI INDONESIA

Ketika berbicara film dokumenter di Indonesia mungkin tidak sejelas kalau kita berbicara film fiksi. Bagi orang awam, film dokumenter adalah film hitam putih, dan juga film yang berbicara mengenai kenyataan tapi kemudian timbul pertanyaan mengenai seperti apa kenyataan itu. Kalau secara sejarahnya, dokumenter itu sangat kelam sekali. Kita berawal dengan kolonialisme.
Ketika Belanda mulai memperkenalkan filmnya, yang sekarang kita kenal dengan layar tancap di daerah Kebon Kacang, belakang Hotel Indonesia-Jakarta, merupakan film dokumenter pertama kali yang diperkenalkan pada 5 Desember 1900 di Batavia (Jakarta), lima tahun setelah film dan bioskop pertama lahir di Perancis. Film pertama di Indonesia ini adalah sebuah film dokumenter yang menggambarkan perjalanan Ratu Olanda dan Raja Hertog Hendrik di kota Den Haag.

Ketika film cerita yang di impor dari Amerika di putar pertama kali di Indonesia pada tahun 1905, film-film produksi pemerintah kolonial saat itu masih berupa film dokumenter. Saat itu banyak diproduksi film-film dokumenter yang tujuannya memang propaganda. Dalam hal ini film dokumenter itu bisa menjadi media pembelajaran yang bersifat pencerahan, tapi juga bisa memberikan pemahaman yang justru manipulatif. Misalnya, dari tujuan untuk memberikan visi baru atau pemahaman baru, tetapi sebenarnya film dokumentar bisa menjadi suatu upaya propaganda untuk memanipulasi fakta yang ada.
Pada perang dunia ke-2, Adolf Hitler (pemimpin NAZI Jerman, Red) sangat piawai dalam menciptakan film dokumenter menjadi satu mitos dunia. Sedangkan di Indonesia, film – film dokumenter Belanda jelas mempropagandakan keindahan Hindia-Belanda kepada rakyatnya sendiri, bahwa di Indonesia tidak ada penderitaan dan hidupnya bagai di surga. Itu contoh dari manipulatif film dokumenter menjadi tujuan propaganda.

Pada tahun 1905 ini juga mulai masuk film-film dari Cina (Tiongkok) melalui China Moving Picture. Dua film Tiongkok pertama adalah Li Ting Lang yang bercerita tentang revolusi di China dan Satoe Perempoean Yang Berboedi. Sebagai catatan seluruh film yang diputar hingga tahun tersebut masih berupa film bisu.

Film Indonesia pertama kali diproduksi pada tahun 1926 adalah film bisu. Pada tahun 1931, film Indonesia yang bersuara diproduksi oleh Tans Film Company bekerja sama dengan Kruegers Film Bedrif di Bandung dengan judul Atma de Vischer. Selama kurun waktu itu (1926-1931) sebanyak 21 judul film (bisu dan bersuara) diproduksi. Pada tahun 1941, tercatat sebanyak 41 judul film yang diproduksi. Terdiri dari 30 film cerita dan 11 film yang bersifat dokumenter. Nama-nama Roekiah, Rd Mochtar dan Fifi Young sangat populer pada masa itu.

Di tahun 1942, produksi film anjlok. Hanya 3 judul film yang diproduksi. Hal ini tentunya berkaitan dengan masuknya pendudukan Jepang di Indonesia yang melarang aktivitas pembuatan film. Pendudukan Jepang mendirikan Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Sidhoso) yang di dalamnya ada Nippon Eiga Sha yang mengurusi bagian film. Selama masa pendudukan Jepang inilah, film mulai secara terang-terangan digunakan sebagai alat propaganda politik. Film yang diputar, selain film dokumenter Jepang yang menonjolkan "kegagahan" Jepang, juga film-film Jerman yang adalah sekutu Jepang. Film Amerika dilarang beredar. Namun pendudukan Jepang masih sedikit berbaik hati dengan memberikan kesempatan kepada kaum pribumi untuk mempelajari teknik pembuatan film.

Kemudian masuk ke zaman Orde Lama. Di Zaman Orde Lama ini film dokumenter masih bersifat propaganda, tapi untuk tujuan atau membangun nasionalisme di Indonesia. Setelah itu kita masuk Orde Baru, pada zaman ini film dokumenter juga masih bersifat propaganda dan itu sangat jelas, sehingga masyarakat umum sampai tidak tahu kalau itu namanya film dokumenter. Pada era ini, film dokumenter dipahami secara sempit sebagai film sejarah, film flora dan fauna, dan terutama film penyuluhan dan propaganda pemerintahan orde baru, yang mengisahkan melulu kesuksesan program-program pemerintah dan penanaman kebencian terhadap mereka yang tidak bersetuju dengan pemerintah.

Dalam perfilman di Indonesia di era ini, ada beberapa film yang berhasil membuat trauma kolektif yang panjang karena telah masuk kewilayah politik yang sangat kontrofersial. Bahkan beberapa film tersebut sempat menjadi rujukan bagi kebenaran sejarah oleh banyak kalangan. Kita sebut saja film Janur Kuning, Enam Jam di Yogja, G 30/S PKI dan Serangan Fajar adalah beberapa contoh film docudrama politik yang cukup kontrofersial. Bahkan Film Pengkhianatan G 30S/ PKI adalah salah satu film yang telah berhasil mempengaruhi publik selama bertahun-tahun. Film docudrama yang berduransi 271 menit tersebut semula berjudul Sejarah orde Baru. Namun karena beberapa alasan, judul tersebut diganti menjadi seperti apa yang selama ini diketahui.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda